OLEH: La Bougiez
Pernahkah kita berfikir, apakah nenek moyang kita pernah melakukan usaha untuk bersatu,menyatukan rumpun yang besar ini. Pernahkah kita merasa kebersamaan, rasa sakit dan terhina yang sama-sama kita deritai. Mungkinkah ketika itu ego diantara kita masih terlalu besar, Johor dengan kesultananya, Aceh dgn empayarnya, Banten dengan perdagangannya, Makasar dengan penaklukanya, Mataram dengan tanahnya yang subur. Tahukah kita bahwa Belanda cukup takut ketika melihat adanya perhubugan erat diantara kerajaan-kerajaan besar ini. Batavia itu sendiri sebenarnya sangat terancam, Belanda ketika itu sangat merisaukan adanya kesepakatan diantara kerajaan Makassar, Banten dan Mataram yang akan menyerang kedudukan mereka disana.
Ingin bersatu bukan mudah, selain faktor keegoan diantara suku puak yang didasari perbezaan agama, bahasa, budaya dan rasa superior diantara kelompok-kelompok tertentu di Nusantara ini. Faktor geografi seolah-olah menjadi tembok pemisah terbesar diantara serumpun Nusantara. Negara-negara yang terdiri dari kepulauan-kepulauan besar dan kecil, Keupayaan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain terutama melalui jalan air, dengan menghandalkan tiupan angin monsun yang bermusim. Ketika itu adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk mempertahankn kesatuan.
Melihat satu persatu kerajaan-kerajaan besar nusantara dikalahkn penjajah, apakah ada usaha perlawanan dari nenek moyang kita? Ya kita bukan bangsa pasif yang hanya diam ketika dihina dan dijajah bahkan kita cuba melawan walaupun tanpa kekuatan dan penyatuan yang bererti. Kita bangsa yang melawan, mereka sendiri juga menyedari akan hal itu seperti yang di kutip dalam penulisan Dampier.
Saya melihat bahwa orang Melayu selalu menjadi musuh orang Belanda
dan hal itu terutama disebabkan oleh keinginan mereka yang kuat untuk berdagang secara bebas, yang dihalangi mereka yakni Belanda, tidak saja di sini (Sumatera) , tetapi juga di seluruh kepulauan rempah rempah, dan di mana saja mereka berkuasa.
-Dampier 1699: 83
Tapi ada sebuah penulisan yang lebih menarik, yang menunjukan sudah ada usaha penyatuan untuk melawan kolonisasi walaupun hanya terlihat samar-samar. Penyatuan yang didorongi oleh persaudaraan sesama Islam dan seruan-seruan jihad dari Ulama seperti yang dijelaskn oleh Anthony Reid dalam artikelnya yang bertajuk "Benteng Terakhir Perdagangan Islam". Saya akan berkongsi sebahagian dari artikel tersebut.
Hubungan Aceh-VOC tetap sangat keras dalam tahun 1650-an, namun
Aceh tidak sendirian. Tidak lama setelah berkuasa di Goa (Makassar), Sultan Hasanuddin mengatakan pada seorang utusan Portugis bahwa para kadi di Mekah telah menulis surat di tahun 1654 pada para raja Islam di bawah angin-Aceh, Johor, Mataram, Banten, dan Makassar untuk menganjurkan mereka bersama-sama menghukum orang Belanda yang telah bersalah terhadap orang Islam. Sultan Banten mengirim utusan kepada Hasanuddin setahun kemudian, dan mengatakan sekalipun Mataram menyambut dingin anjuran perang tersebut, Banten bermaksud akan menyerang Batavia dan Aceh akan menyerang Melaka.
Sultan Hasanuddin sendiri akan terus-menerus mengganggu orang Belanda di Maluku.
(Cabral 1655; Loji Macassar Factory 1655).
Seorang nakhoda Melayu yang tiba di Banten dari Aceh dengan berita bahwa Aceh, Patani, Perak, dan Johor telah sepakat untuk menghalau Belanda, sementara Banten dan Makassar akan melakukan hal yang sama kemudian (Agen di Banten 1656). Bahkan Amangkurat I dari Mataram, yang telah membunuh sebagian besar dari para ulama di kerajaannya, tergerak oleh ramalan bahwa Tuhan akan memberi kemenangan kepada negara-negara Islam itu kalau mereka memerangi Belanda. la melarang Belanda memasuki pelabuhan-pelabuhannya di tahun 1655-1657 dan mengirirn
utusan pada Makassar tetapi tidak bisa melakukan lebih dari itu
(de Graafl961: 103-105).
Itulah kesempatan terakhir yang diperoleh para penguasa Islam untuk
bekerja sama sebelum keadaan perdagangan mereka menjadi goyah dan dimiskinkan.
Imej: Peta Gugusan Pulau Muslimin?
MELAYU RAYA
___________________________
~ La Bougiez ~
Lajnah Sejarah Dan Tradisi
Telegram: https://t.me/gerakanpenamy
Instagram: https://www.instagram.com/gerakanpenamy
_____________________________

Comments
Post a Comment