OLEH: Abu Amru Radzi Othman
Kata ini berasal dari bahasa Latin: 'argumentum ad hominem', yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris bermakna argument against the man (argumen yang menyerang personal seseorang).
Yang sepatutnya dibahas adalah
argumentasi yang dibawa dan bukannya sosok peribadi. Justeru 'argumentasi ad hominem' merupakah salah satu bentuk falasi atau kesesatan logika. Inilah yang diungkapkan dalam Ilmu Kaedah Berfikir.
Contohnya seorang ayah yang perokok telah menasihati anaknya agar tidak merokok lantaran rokok itu berbahaya. Lalu anaknya melancarkan argumentasi ad hominem dengan menimpali bahawa ayahnya juga perokok lantas nasihat sang ayah tidak absah. Padahal nasihat ayahnya itu benar dari ilmu sains kesihatan.
Atau seorang guru rumah sukan menolak permohonan seorang muridnya dengan berhujah "kamu pendek jadi tidak layak untuk masuk pertandingan maraton", padahal pertandingan maraton lebih mementingkan ketahanan untuk berlari dalam jarak jauh, bukannya ketinggian seseorang. Di sini sang guru telah menggunakan sosok tubuh anak muridnya sebagai alasan.
Namun tidaklah selamanya agrumentasi ad hominem ditolak. Jika sesuatu perkara berkaitan dengan kesaksian, maka sifat negatif pada pemberi kesaksian itu sangat penting diperhatikan lantaran ia berkaitan dengan isu kredibiliti. Hal ini menjadi amalan dalam argumentasi hukum dalam pengadilan, khususnya dalam rangka mengevaluasi kereliabelan testimoni.
Begitu juga dalam agama Islam ketika berkaitan sesuatu berita, atau perekod hadis atau pemberi fatwa. Keperibadian seseorang akan diteliti terlebih dahulu malah akan dibahaskan.
Selain dari falasi ad hominem, kita juga terkadang jatuh dalam kesesatan logika yang lain, antaranya melakukan 'pukul rata' atau generalisasi.
Generalisasi gegabah (tergesa-gesa) merupakan penarikan kesimpulan yang mengandalkan jumlah sampel yang tidak mewakili populasi.
Contohnya seorang yang ditipu oleh seorang peniaga ketika dia sampai ke sebuah daerah, lalu dia menyimpulkan semua peniaga di daerah tersebut selalu menipu. Padahal watak sedikit orang tidaklah dapat menggambarkan watak sebuah masyarakat. Namun generalisasi gegabah inilah yang sering kita amalkan.
Begitulah juga jika ada seseorang yang mengganggu (mengacau) tunang kita - entahkan dakwaan ini benar atau sekadar sebuah dusta, wallahu'alam - lalu kita melakukan Generalisasi Gegabah dengan mengatakan lelaki dari jamaah tertentu suka melakukan 'Bandit Perkawinan Salafi'.
Nota:
Bersama arwah ketika berada di tahun ke 3 di universiti, kami menghasilkan sebuah makalah berkala berjodol 'episode' dengan matlamat untuk mengajak teman-teman agar memberi perhatian kepada metode berfikir.
Makalah ini kami sebarkan di kolej kediaman dan di fakulti: diberi kepada teman-teman.
Episode yang dihasilkan sekali setiap bulan sempat diluncurkan sehingga jumlahnya dalam belasan sebelum kami menamatkan pelajaran.
Yang menggerakkan kami menulis ketika itu adalah kesan dari membaca tulisan-tulisan dari guru kami secara online. Kelak setelah kami tinggal di Kuala Lumpur sesudah habis belajar dan pindah dari Kedah, kami berpeluang untuk menghadiri kelas beliau bersama suaminya di Taman Permata pada setiap hujung minggu.
Beliau dan suaminya adalah antara guru yang sangat kami hormati dan selalu memberi inspirasi kepada kami.
___________________________
~ Abu Amru Radzi Othman ~
Lajnah Sejarah Dan Tradisi
Telegram: https://t.me/gerakanpenamy
Instagram: https://www.instagram.com/gerakanpenamy
_____________________________

Comments
Post a Comment