OLEH: Abu Amru Radzi Othman
Sultan Banjar dibantu oleh para menteri yang jumlahnya sekitar 45 orang, iaitu:
(1) Mangkubumi
- bertindih sebagai Perdana Menteri
- dari keluarga diraja
(2) Pangapit Mangkubumi
- menjaga urusan agama
(3) Mantri Panganan (Menteri Kanan)
- menjaga ketenteraan
(4) Mantri Pangiwa (Menteri Kiri)
- menjaga ketenteraan
(5) Mantri Bumi
- menguruskan perbendaharaan negara dan pemasukan pajak
(6) Mantri Sikap
- menguruskan perbendaharaan negara dan pemasukan pajak
- berjumlah 40 orang
- setiap Mantri Sikap memiliki orang bawahan sebanyak 100 orang
*********************
Bagi melancarkan pentadbiran dan keamanan maka para Sultan dibantu oleh beberapa petugas seperti:
(1) Sarawisa
- para penjaga keamanan istana
- berjumlah 40 orang
- ketua Sarawisa di panggil Sarabraja
(2) Managasari
- para pengawal raja & istana
- berjumlah 40 orang
- ketua Managasari di panggil Sarayuda
(3) Mandung
- para penjaga kebersihan istana
- berjumlah 50 orang
- ketua Mandung di panggil Raksyayuda
(4) Saragani
- menjaga senjata
- ketua Saragani di panggil Saradipa atau Wangsanala
(5) Mangumbara
- perlaksana upacara kerajaan
(6) Tahuburu
- para pengawal sultan ketika berburu
- ketua Tahuburu di panggil Puspawana
(7) Singabana / Parawila
- para pengawal sultan
(8) Jurubandar
- para petugas cukai di pelabuhan
- ketua Jurubandar di panggil Anggarmata
(9) Wiramartas
- pegawai perdagangan umum milik kerajaan
(10) Lalawang
- ketua daerah
*********************
Para petugas keperluan Sultan diketuai oleh Rasajiwa. Dibawah beliau ada beberapa jawatan:
(1) Pamarakan
- berjumlah 50 orang
(2) Pergamelan
- penghibur istana
- ketuanya Pergamelan di panggil Astrapana
(3) Payung Bawat
(4) Panghadapan
*********************
Catatan:
(1) Sultan akan menerima segala laporan dari para pegawai kerajaan di acara 'seba'.
(2) Seba adalah sidang mingguan yang digelar / diadakan pada hari Sabtu di tempat yang dipanggil 'sitilohor'.
(3) Sultan di bantu oleh Dewan Makhota yang terdiri dari:
- Mangkubumi
- para mantri
- para kyai
*********************
Rujuk: Kesultanan Banjarmasin Dalam Lintas Perdagangan Nusantara Abad Ke-XVIII, Ibnu Wicaksono
[Legasi Pemikir - LEKIR]

Comments
Post a Comment