Nabi Beriman Kepada Helosentrik (Dunia Berputar Pada Suria)?

OLEH: Abu Amru Radzi Othman

Nabi Lahir Dan Hidup Dalam Masyarakat Yang Beriman Bumi Pegun

Ibnu Syatir (704 H / 1304 M – 777 H / 1375 M) adalah dijangka manusia pertama yang mengatakan bahawa Bumi berputar mengelilingi matahari. Maknanya sebelum itu, semua manusia beriman bahawa Bumi pegun dan menjadi pusat alam, dan mataharilah yang mengelilingi Bumi.

Ibnu Syatir hanya lahir setelah 700 tahun kewafatan Rasulullah saw. Lalu kita ingin tahu, di zaman Rasulullah hidup, apakah masyarakat pada zaman itu beriman kepada Bumi pegun atau Bumi berputar?

Mahu tidak mahu, kita harus kembali kepada riwayat-riwayat yang kita miliki. Antara contoh paling mudah adalah kita mengambil perkataan Imam Al Qurtubi.

Sebelum kita pergi kepada isu Bumi berputar atau pegun,molek kiranya kita melihat keyakinan para sahabat Rasulullah saw kepada kejadian alam semesta. Mengikut riwayat, para sahabat telahpun beriman bahawa bumi dan angkasa sebenarnya bersatu pada sebuah kesatuan, dan kemudian baharulah bercerai dan terpisah.


Nabi Telah Jelaskan Teori Kejadian Alam Dari Sebuah Kesatuan
Lihatlah bagaimana catatan Imam Al Qurtubi yang membawa perkataan Ibnu Abbas, Sahabat Nabi: "Ia bermaksud bahawa kedua langit dan bumi pada asal kejadian adalah satu kesatuan yang bercantum, kemudian Allah pisahkan diantara kedua-duanya" pada tafsir ayat Al Anbiya di bawah:

"Dan tidakkah orang kafir itu memikirkan dan mempercayai bahawa sesungguhnya langit dan bumi itu pada asal mulanya bercantum, lalu kami pisahkan antara keduanya? Dan kami jadikan dari air tiap-tiap benda yang hidup. Maka mengapa mereka tidak mahu beriman?”. (Surah Al-Anbiya: 30)

Soalnya adalah, Ibnu Abbas yang wafat pada 68 H / 687 M telah beriman tentang kesatuan alam, lalu apakah dunia ketika itu menerima teori ini?

Lihat, Nabi telah ajarkan kepada para sahabat baginda bahawa alamini sebenarnya menyatu, lalu terpisah. Padahal ketika itu manusia tidak beriman sebegitu.

Lantas dalam kitab yang sama juga, Imam Al Qurtubi menjelaskan keyakinan Umat Islam zaman berzaman, semenjak zaman Nabi hinggalah ke zaman beliau. Berkata Imam Al Qurtubi

"Dan yang diyakini oleh Kaum Muslimin dan Ahlul Kitab adalah perkataan bahawasanya Bumi ini pegun serta terbentang. Dan pergerakan bumi ini hanya terjadi kerana adanya gempa bumi" (Tafsir pada ayat 3 surahAr Ra'd)

Inilah pegangan kaum Muslimin, yang di dalamnya terdiri dari 3 generasi Salaf, dan seluruh imam Ahlul Sunnah yang lainnya. Termasuk di situ adalah Nabi dan para sahabat dan tabi’ut tabi’in.


Dalil Yang Menjadi Asas Keyakinan Yahudi Dan Nasrani Tentang Bumi Pegun
Lalu berkali-kali Nabi jelaskan kepada para Sahabat yang ketika itu beriman Bumi pegun sepertimana masyarakat di zaman itu, tentang matahari. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

Ada seorang nabi dari Bani Isra’il yang berperang, maka diaberkata kepada kaumnya,
 “Jangan ada sesiapa pun yang mengikuti sedangkan dia telah memiliki isteri dan dia ingin berkumpul dengannya namun belum sempat berkumpul, dan jangan pula seseorang yang telah membina rumah namun belum memasang atapnya, juga jangan seseorang yang telah membeli kambing sedangkan dia sedang menunggu kelahiran anaknya.” Maka nabi itu pun pergi berperang, dan dia menghampiri sebuah desa yang dituju ketika waktu solat ashar, maka dia berkata kepada matahari: “Engkau adalah makhluk yang diperintah dan aku pun diperintah, Ya Allah, tahanlah sebentar matahari itu untukku.” Maka matahari itu pun ditahan sehingga Allah memberikan kemenangan baginya.
 (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat al-Hakim: “Wahai matahari, engkau diperintahdan aku diperintah dengan kehormatanku atasmu, engkau perlu berhenti sejenak dalam hari ini...” (al-Mustadrak)

Hadis ini sebenarnya turut tercatit dalam Al Kitab milik Yahudi dan Nasrani pada kisah Nabi Yusa’. Ia menjadi asas keyakinan mereka untuk menetapkan bahawa Bumi itu pegun. Lantas kita ingat kembali perkataan Imam Al Qurtubi, bahawa Ahli Kitab dan Ahli Kiblat beriman akan hal yang sama.

Para sahabat beriman bahawa yang bergeraknya matahari, bukannya bumi. Kerana manusia yang mula-mula merekacipta bumi bergerak lahir700 tahun setelah itu. Maka begitu banyak hadis yang menunjukkan Nabivmenerangkan tentang pergerakan matahari kepada para sahabat.

Ingat!

Nabi pernah bercerita kepada para sahabat tentang isra’ dan mi’raj dan tangga eskalator dari perak. Cerita yang sangat tidak logik! Lantas disini, apakah wujud halangan untuk Nabi menjelaskan kepada para sahabat bahawa Bumi itu bukan pegun sebaliknya berputar mengelilingi matahari, sekaligus menyanggah pendapat umum yang berlegar ketika itu!

Wallahi tidak wujud kekangan dan hambatan!

Jika kita ini umat Islam yang mencintai sunnah, dan sering membaca hadis, pastilah kita akan ketemu betapa banyak hadis Nabi yang “pelik”dan luar logika, tetapi tetap disebut oleh Nabi.



Hadis Nabi Menceritakan Tentang Peredaran Matahari
Abu Dzar Ra berkata bahawa pada suatu hari Nabi Muhammad Rasulullah saw pernah bersabda: “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi (terbenam)?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih mengetahui? ”Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya matahari ini pergi beredar (terbenam) sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy (singgasana Allah), lalu dia (matahari) bersujud. Dia (matahari) tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang (terbit)!’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia beredar sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang (terbit)!’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya (timur), kemudian dia beredar sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah, terbitlah dari arah barat!’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah Saw bersabda (yang artinya): “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan didalam masa imannya (yakni terbitnya matahari dari barat adalahketika hari kiamat tiba)!“. (Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Bukhari danMuslim - dan ini lafazhnya, Ath-Thayyalisi dalam Musnadnya, Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud; dan Tirmidzi; dan Nasa’i dalam Sunan Kubra; dan Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah dan lain sebagainya. Seluruhnya dari jalur sanad Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar RA)

Abu Dzar RA mengatakan: “Ketika aku sedang duduk berdua-duan bersama Rasulullah SAW di masjid, pada saat itu hari sudah mulai malam. Kemudian Nabi SAW bersabda: ‘Hai Abu Dzar, tahukah kamu, kemanakah matahari ini terbenam?’ Aku menjawab: ‘Hanyalah Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui akan hal itu!’. Dan Nabi SAW bersabda: ‘Sesungguhnya matahari ini terbenam dan setelah itu dia bersujud di bawah ‘Arsy Allah. Itulah tafsir dari QS Yasin: 38′. Dan Nabi SAW melanjutkan sabdanya: ‘Sesungguhnya tempat peredaran matahari adalah berada di bawah ‘Arsy Allah (singgasana Allah)!‘”. 
(Hadits Shahih didalam  Kitab Shahih Muslim; Bab: Tafsir Qur’an).

Dari Abu Dzar Al-Ghifariy ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya matahari itu terbenam dan dia bersujud di bawah ‘arsy Allah. Hampir-hampir saja matahari tidak diizinkan lagi untuk terbit. Maka terbitlah dia dari arah barat!“. 
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).



Hadis Tentang Langit Dunya Bertindak Sebagai Talipinggang Van Allen
Dari Qatadah, ia berkata; Telah bercerita, Al-Hasan, dariAbu Hurairah -Radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata: Ketika Nabi Muhammad -saw- sedang duduk bersama para shahabatnya, tiba-tiba datanglah awan kepada mereka. Kemudian Nabi -saw- berkata: “Apakah kalian tahu, apakah ini?” Kemudian mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Ini adalah awan, ini adalah awan mendung yang akan menyirami bumi, Allah -Tabarakawa Ta’ala- menggiringnya kepada suatu kaum yang tidak bersyukur kepadaNya dan tidak berdoa kepadaNya”. Kemudian Beliau -saw- bersabda: “Tahukah kalian, apa yang ada di atas kalian?” mereka (para shahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah Raqi’ (nama langit dunya/ nama langit yang ke satu / nama langit yang paling dekat dengan bumi), iaitu atap yang dijaga, serta gelombang yang tertahan. Tahukah kalian, berapakah jarak antara kalian dengan langit tersebut (Raqi’)?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di atas hal itu terdapat dua langit, jarak diantara keduanya adalah lima ratus tahun perjalanan.” Hingga Beliau menyebutkan tujuh langit, jarak antara dua langit seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian Beliau bersabda: “Apa (yang ada) di atas hal tersebut (di atas langit ke tujuh)?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”.  Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di atas hal tersebut (di atas langit ke tujuh) adalah ‘Arsy Allah (Singgasana Tuhan), diantara ‘Arsy (Singgasana Tuhan) dan langit setelah (langit ketuuh) itu adalah jarak antara dua langit”. Kemudian Beliau bersabda: “Tahukah kalian, apa yang ada di bawah kalian?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”.Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di bawah kalian adalah bumi”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Apa yang ada di bawah hal tersebut?” Mereka menjawab:“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya di bawah bumi terdapat bumi lain, di antara keduanya berjarak perjalanan lima ratus tahun.” Hingga Beliau menyebutkan tujuh bumi, jarak antara setiap dua bumi adalah sepanjang lima ratus tahun perjalanan. Kemudian Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, seandainya kalian mengulurkan tali kepada seseorang ke tanah (bumi) yang paling bawah, niscaya akan turun di atas Allah”. Kemudian Beliau membacakan ayat: “Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir,Yang Dzahir dan Yang Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu!. (QS Al-Hadid: 3)”. (Hadits Shahih, Shahih Sunan Tirmidzi)


Penutup
Lalu Nabi dan Para Sahabat telahpun beriman kepada Bumi Pegun dan yang beredarnya adalah matahari. Iman ini yang diyakini oleh kaum sebelum itu iaitu Ahli Kitab!
Maka apakah wajar kita sebagai umat Islam, memperlekehkan Nabi dan para sahabat lalu kita beranggapan bahawa mereka itu jahil, sains yang mereka terima itu masih belom mencerap pergerakan bumi? Apakah kita mahu kurangajar dengan menganggap Nabi dan para sahabat itu tolol dan bahalul? Kalau begitu, kalian ambillah Ibnu Syatir sebagai Nabi kalian!


___________________________
Abu Amru Radzi Othman





Dapatkan buku Kemunculan Misteri Pemuda Bani Tamim Di Akhir Zaman! Untuk keterangan lanjut sila KLIK DI SINI .

Comments