Ulasan Buku: The Malay Archipelago

OLEH: La Bougiez

Ulasan Buku:The Malay Aechipelago 

Pagi ini 12 november,langit mendung menemani hariku, duduk di kerusi hadapan van pekerja yang membawa aku menelusuri jalan-jalan di sekitar kota metropolitan,pemandangan yang tidak aku dapatkan di bandar kelahiranku.

Hari ini buku tebal ini, dengan lembaran kuning kusam yang setiap hari kujinjing dan kugalas akhirnya habis ku baca.

Buku setebal 800++ halaman,siap di terbitkan pada tahun 1869, ketika eropah sedang marak pada perang-perang ideologi,teologi dan lahirnya ramai pemikir-pemikir yang mereka jadikan acuan untuk membentuk pemikiran dan tamadun mereka sehingga ke hari ini.

Berkatalah penulis ini pada lampiran akhir dalam buku ini sebelum menokhtahkan tulisannya. Kita orang-orang eropah yang menganggap bahwa ras kitalah yang paling unggul dan keterdepan berbanding ras manusia lainnya, tetapi setelah aku menjelajah selama 8 tahun di bumi manusia-manusia semi barbarik (peradaban yang masih rendah) , penulis mengatakan bahwa kemajuan intelektual dan material di eropah meninggalkan bahkan meruntuhkan nilai-nilai moral orang eropah,di sela-sela urbanisasi melahirkan masyarakat marginal yang kehidupannya lebih buruk dari kehidupan orang yang kurang berperadaban di selatan Amerika dan dunia timur yang mana penulis mengatakan lagi bahwa dia pernah tinggal bersama orang-orang liar ini dimana kehidupan mereka hampir tidak memiliki hukum dan pengadilan,  tetapi mereka sangat menghormati hak-hak orang lain,masyarakat bebas bersuara, hampir tidak terjadi perbezaan dikalangan orang kaya dan miskin, orang bijak dan bodoh, para majikan dan pekerjanya. Mungkin gejala inilah yang melahirkan buku Das Kapital sebuah kritik sosial tentang keterbelakangan golongan proletariat (kelas pekerja).

Awan makin gelap berkabung sedih di lantai langit, aku pikir hujan akan turun sebentar lagi.

Di musim hujan ini membuat aku mudah terserang demam. Oh ya, berkata tentang demam pikiranku menerawang mengingatkan aku kembali pada penulisan dalam buku ini(The Malay Archipelago), penulis A.R Wallace pernah terserang demam yang agak berat(kemungkinan malaria) ketika mengunjungi kepulauan Maluku tepatnya di negeri Ternate. Dari negeri inilah sepucuk surat mengenai pemikiran dan gagasan Wallace berkenaan pemilihan alam 'natural selection' sampai ke tangan Charles Darwin pada tahun 1858 yang akhirnya mendorong beliau untuk mengembangkan teori ini dalam bukunya "On The Origin Of Species" terbit tahun 1859. Sebenarnya  hal ini menimbulkan banyak konflik antara ilmuan di eropah. Terutamanya para Naturalis yang menganggap bahawa penemuan Wallace ketika berada di Alam melayu ini sangat menakjubkan, sebelum "Latter of Ternate yang melagenda ini ditulis",  beliau lebih dahulu mengemukakan hukum proses evolusi melalui tulisannya Sarawak Law.

"Every species has come into existence coincident both in space and time with a closely allied species".

Walaupun buku AR Wallace memuatkan catatan tentang corak alam dari keadaan geografi dan geologi muka bumi alam Melayu, kepelbagaian dan persamaan flora dan fauna dari satu kawasan ke kawasan yang lain ia juga menjelaskan tentang penghijrahan antara spesis daripada serangga,burung dan mamalia.

Dalam buku ini Wallace  menjelaskan bahwa muka bumi(ketika proses terbentuknya dataran sunda) sangat mempengaruhi proses penghijrahan  suatu spesis misalnya ada persamaan spesis flora dan fauna di semenanjung Melayu, Sumatera, Borneo dan Jawa (spesis Asia), tetapi ketika mengulas tentang Sulawesi,kepulauan Maluku,NTT dan Papua ia menjumpai hal yang berbeza di mana flora dan fauna di negeri itu lebih dekat dengan flora dan fauna yang ditemui di Australia yang tercampur dalam variasi Asia.Maka hal ini membuat beliau memutuskan bahwa ada garis pemutus antara taburan flora fauna Asia dan Australia yang mana kita kenal dengan istilah Wallace line.

Wallace juga memerhatikan sifat-sifat dan bahasa serta budaya setiap bangsa penghuni kepulauan Melayu(beliau masih tidak terlepas dalam membuat rumusan dari sudut pandang orientalis di zaman kolonial).

Wallace  membahagikan bangsa Melayu kepada 5 kelompok ras Melayu yang paling berpengaruh dan menonjol ( Melayu Semenanjung, Sumatera,Jawa, Bugis, Tagalog dan Dayak) , dan juga dia menjelaskan tentang perbezaan antara etnik Melayu asli dan etnik yang memiliki ciri-ciri Melayu. Wallace juga menjelaskan berkenaan ciri-ciri perbezaan antara ras Melayu, ras Papua(Melanesia) dan ras campuran antara Melayu dan Melanesia.

Terlepas dari sisi ilmiah buku ini,  aku sebagai pembaca agak terkesan dengan sifat kebapaan Wallace, yang setelah lama berlayar di kepulauan Melayu ini ditemani oleh pembantu-pembantunya yang ia sapa dengan panggilan "anak"  terutama kepada ketiga pembantu muda, seorang pemuda Melayu bernama Ali dari Sarawak dan 2 orang pemuda dari Makassar. Ingin tahu lebih lanjut kena la baca sendiri buku ini.

Unsur humor (jenaka) juga terselit dalam penceritaan Wallace, peristiwa ketika beliau terserempak dengan seekor kerbau yang ketakutan melihat bangsa berkulit putih dan ketika dialog antara penduduk Lombok.

Ironinya kita kurang mengetahui tentang buku ini,  yang menjadi karya terbaik AR Wallace, dan mengangkat nama kepulauan Melayu di mata dunia tentang kekayaan alam kita untuk penelitian yang lebih mendalam.






___________________________
~ La Bougiez ~
Lajnah Makalah Sejarah
_____________________________





Dapatkan buku Menangkis Fitnah Yang Terpalit Pada Bani Umayyah! Untuk keterangan lanjut sila KLIK DI SINI .

Comments