Fakih Shagir, Kaum Paderi, Salafi?

OLEH: Abu Amru Radzi Othman

HAMKA menulis tentang Fakih Shagir yang ada menulis satu dokumen keterangan tentang kaum Paderi, dimana dia memandang kaum itu menyeleweng:

"Fakih Sagir putera dan murid dari Tuanku Nan Tuo Koto Tuo itu ; yang juga berfaham Wahabi tetapi tidak menyetujui sepak terjang Harimau Nan Salapan, yang suraunya pun pernah dibakar oleh Kaum Adat karena menentang fahamnya, oleh karena tidak ikut di dalam peperangan, telah diajak bekerjasama oleh Pemerintah Belanda, lalu diangkat Regen (Tuanku Regen) di Luhak Agam, menggantikan Datuk Bagindo Khatib yang tidak disukai Kaum Adat. Fakih Sagir setelah tua bergelar “Tuanku Sami”.”

Tapi dakwaan HAMKA salah, mungkin ini bukti kemanusiaa nya, jika tidak ada salah, pastilah dia bukan manusia.

Gerakan Paderi dan Fakih Shagir, juga Tuanku Nan Tuo, adalah Asyaariyah bertariqat Shatariyah, bukannya Wahabi.

Hal ini dapat dilihat sangat jelas dalam surat keterangannya, dimana dia nyatakan sanad perguruan mereka dengan ulama sufi.

"Bahwa inilah cerita daripada saya, Fakih Saghir `Alamiyat Tuanku Samiang Syekh Jalaluddin Ahmad Kota Tuho adanya. Akan halnya cerita ini peri menyatakan asal kembang ilmu syari`at dan hakikat, dan asal teguh larangan dan pegangan, dan asal berdiri agama Allah dan agama Rasullah daripada awalnya lalu kepada akhirnya, lalu kepada perang hitam dan putih hingga keluar Kompeni Wolanda ke Tanah Darat ini adanya. Maka adalah saya, Fakih Saghir, mendengar cerita daripada saya punya bapa´, sebabnya saya mengambil pegangan ilmu hakikat. Karena cerita ini adalah ia setengah daripada adab dan tertib wara` orang mengambil petuah jua adanya. Ya`ni adalah seorang aulia Allah yang kutub,* lagi kasyaf,* lagi mempunyai keramat, yaitu orang Tanah* Aceh, Tuan Syekh Abdul Rauf orang masyhurkan. Telah ia mengambil ilmu daripada Tuan Syekh Abdul Kadir al-Jailani. Itu pun ia mengambil tempat di negeri Medinah, tempat berpindah* Nabi kita Muhammad Rasullah sallallahu `alaihi wasallam, yaitu bimbing mehafazkan ilmu syari`at dan hakikat; ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini"

Jelaslah bahawa ulama panutan kaum Paderi adalah ulama sufi. Dan Fakir Shagir pun pengamak ajaran sufi.

Lalu dinyatakan pula Tuanku Nan Ranceh bergabung dengan Fakir Shagir dan menjalankan dakwah bersama:

"Maka dalam masa itu jua, adalah saya, Fakih Saghir, berhimpun dangan Tuanku nan Renceh dalam mesjid Kota Hambalau di nagari Candung Kota Lawas jua adanya".

Seterusnya lihatlah kata Fakih Shagir ini:

"Maka setelah itu jua mufakatlah saya dangan Tuanku nan Renceh hendak mendirikan pekerjaan itu. Itu pun* Tuanku nan Renceh terlebih sangat berahi dan berapa2 kali mufakat, beria2* jua sambil duduk bersanang2 mehafazkan ilmu".

Kalu molek kiranya kita lihat ajaran Fakir Shagir ini, apakah ia menyerukan ajaran Wahhabi:

"Maka bersungguh-sungguhlah saya menyuruhkan orang sembahyang hingga sampai berdiri jema`at dua belas orang, dan menyuruhkan orang menunaikan zakat serta membahagikan kepada segala fakir dan miskin. Pada masa dahulu ada jua orang menunaikan zakat tetapi sedikit2; tidak dibahagikan antara segala fakir dan miskin, melainkan dihimpunkan saja supaya diambil faidah barang apa-apa maksudnya, dan menyuruhkan orang maulud akan nabi salla l-lahu `alaihi wasallam serta membaiki tertibnya, dan tertib orang memakaikan agama Islam.”

Apakah kaum Wahabi itu menyambut Maulid Nabi? Tidak pernah ditemukan hal ini, malah sangatlah dibenci acara bid'ah ini.

Dalam memoir Imam Bonjol pula - sebuah catatan harian peribadi beliau - , tertulis wasiat untuk anaknya:

"Akui hak para penghulu adat. Taati mereka. Kalau ini tidak bisa ditaati, maka ia bukan penghulu yang benar dan hanya memiliki gelar saja. Sedapat mungkin, setialah pada adat. Dan kalau pengetahuannya belum cukup, pelajarilah dua puluh sifat-sifat Allah"

Ada dua hal yang perlu kita lihat:

(1) Imam Bonjol menyuruh anaknya untuk taat kepada pemimpin negara

(2) Kuatkan kefahaman dalam Sifat 20

Dengan ini menyalahi aqidah Wahabi, dimana Wahabi meletakkan perihal taat pada penguasa dalam aqidah serta larangan menjadi kaum bughah.

Dan seruan untuk memantapkan kefahaman Sifat 20 menjadi bukti tak terbantah, kerana Wahabi tidak mengikut prinsip ini sebaliknya menggunakan Tauhid 3.

Imam Bonjol tidah pernah langsung menyatakan Tauhid 3, dan mewasiatkan jangan pelajari tauhid jenis ini atau meninggalkannya. Dan jenis tauhid ini tak pernah dikenal oleh kaum Paderi.



___________________________
~ Abu Amru Radzi Othman ~
Lajnah Sejarah Dan Tradisi
_____________________________





Dapatkan buku Menangkis Fitnah Yang Terpalit Pada Bani Umayyah! Untuk keterangan lanjut sila KLIK DI SINI .

Comments