Agama Awal Sebelum Hindu-Buddha Di Nusantara

OLEH: Abu Amru Radzi Othman


Agama Hindu-Buddha mula memasuki Nusantara diperkirakan pada awal Masihi melalui jalan perdagangan.

Dikatakan pendakwah yang sampai ke Indochina adalah seorang Brahmin bernama Kaudinya. Sedangkan pendakwah di Kepulauan Nusantara seperti di Indonesia dan Semenanjung Malaysia pula ada dua versi.

Versi pertama adalah dari seorang Resi bernama Agastya yang menyebarkan ajaran Hindu Siwa.

Versi kedua adalah Aji Saka yang bermaksud 'Raja Syaka'. Dialah yang memperkenalkan tarikh ini ke tanah Jawa.

Setelah masa berlalu maka pada kurun ke 4M barulah muncul kerajaan Hindu pertama di Nusantara, tepatnya di Kalimantan Timur, Kerajaan Kutai.

Ditemukan beberapa prasasti di Kutai, salah satu dari isi kandungannya cukup menarik:

"Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashyur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana"

Nama Kundungga itu adalah dari bahasa lokal. Sementara nama anak dan cucunya memakali bahasa Sanskrit. Maka para pengkaji melihat bahawa pengaruh India mula terjadi pada masa Aswawarman. Kata Dr Supomo - arkitek undang-undang Dasar Indonesia: "...Aswawarman adalah dari jalur keturunan yang pertama yang mengambil agama Hindu dan berkemungkinan pengasas kepada kerajaan baru yang memakai agama baharu".

Setelah Kutai di Kalimantan, muncul pula beberapa negara yang menjadikan agama Hindu-Buddha sebagai anutan. Antaranya adalah Tarumanagara di Jawa Barat.

Di Tarumanagara ini hanya pemerintah sahaja memakai agama Hindu sementara rakyat jelata masih menganut agama asli. Sedangkan agama Buddha menjadi agama minoriti.

Menurut Fa-Hein, pendita Buddha dari China yang singgah di Jawa sekitar tahun 414M menyatakan di Tarumanagara itu ditemukan banyak pendita Hindu dan yang paling sedikit adalah pendita Buddha, sedangkan yang terbanyak adalah penganut 'agama kotor'. Kerajaan Tarumanagara ini lenyap pada akhir abat ke 7M setelah ditakluk oleh Srivijaya sekitar 686 - 687M. Srivijaya ini beragama Buddha Vajrayana.

Makanya di Pulau Jawa itu ditemukan banyak 'punden berudak' atau teras bertingkat. Teras bertingkat ini adalah sebuah tempat penyembahan agama kuno.

Agak menarik adalah berkenaan dengan situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Banyak pengkaji mengatakan situs ini lebih tua dari tamadun Mesopotamia dan Mesir. Usia situs ini dianggarkan sekitar 5200SM. Bentuk situs ini seakan punden berudak.

Ia sekaligus membatalkan mimpi Evangelis Hindu yang kononnya Nusantara ini dimajukan oleh kaum mereka.

Berikut adalah beberapa agama yang ada sebelum kedatangan Hindu-Buddha ke Nusantara khususnya Indonesia:

(1) Pelebegu - masyarakat Nias

(2) Arat Sabulungan - masyarakat Mentawai

(3) Permalim / Sipelebegu - masyarakat Batak

(4) Kaharingan - masyarakat Dayak

(5) Sunda - masyarakat Sunda @ Jawa Barat

(6) Sunda Wiwitan - masyarakat Baduy

(7) Alifuru - masyarakat Minahasa

(8) Aluk Todolo - masyarakat Toraja

(9) Jingi Tiu - masyarakat Sabu (Sawu)

(10) Dinitiu / Singgo - masyarakat Rote

(11) Marapu - masyarakat Prailiu

(12) Papa Sette - masyarakat Tidore

(13) Gikiri Moi - masyarakat Tugutil

Rujuk: Perjumpaan Antarpemeluk Agama di Nusantara oleh Sukamto
Gambar: Situs Gunung Padang, Jawa Barat



___________________________
Abu Amru Radzi Othman


Comments