Ketika Keraton Menjadi Saksi Bisu

OLEH: La Bougiez

Peristiwa hitam yang berlaku kira-kira 300 tahun silam, di sebuah istana megah yang berdiri diatas semangat para penerus Majapahit.

Sunan Mas yang bergelar Amangkurat III memerintah kerajaan Mataram dalam tempoh yang sangat singkat yakni dari tahun 1703-1704 menurut catatan yang diberikan Crawfurd raja ini terkenal bersifat brutal dan berkelakuan buruk.

Isteri baginda bernama Raden Ayu anak kepada ayah saudara baginda sendiri yakni Pangeran Puger dikemudian hari akan mengantikan baginda sebagai susuhunan/raja Mataram (1704-1719 bergelar Pakubuwono I)  , ikatan perkahwinan ini didorong oleh ayahanda baginda sendiri yang merupakan raja ke 5 kerajaan Mataram bergelar Amangkurat II.

Kerana sikap sang suami yang keterlaluan dan sentiasa mengabaikan sang isteri, perasaan cinta sang ratu pun sudah jatuh keribaan orang lain seperti kata bidalan lama "kepala rebah mata melayang,bantal bangkit main wayang".

Raden Sukra seorang pemuda bangsawan, anak seorang menteri di keraton Kartasura, ibukota kerajaan Mataram ketika itu, digambarkan pemuda ini cukup tampan maka bermain cintalah pemuda tampan itu dengan sang ratu yang diabaikan raja. Entah berapa lama cinta terlarang ini dijalin mesra, hanya tembok keraton yang membatu bisu menjadi saksi.

Sehinggalah suatu masa, bait-bait rayuan gombal sang putra pencinta yang dikarang pada segulung kertas jatuh ketangan sang raja, percintaan terlarang itu akhirnya tertangkap basah.

Susuhunan Amangkurat III sangat murka dan  segera memerintahkan Pangeran Puger melaksanakan hukum bunuh keatas puteri beliau Raden Ayu.

Berdasarkan sumber historiografi yang dicatat oleh Crawfurd walaupun beliau bukanlah saksi mata dan mengatakan bahwa cerita ini beliau dapatkan dari sumber autentik naskah-naskah Jawa.

Susuhunan amat marah ketika kisah cinta itu terbongkar, ia meminta pangeran Pugar agar menghindarkan diri, keluarganya di usir dan memerintahkan ketujuh putera pangeran datang sembah menghadap agar boleh dijadikan tangan kotor yang akan menjalankan hukuman bunuh terhadap saudari mereka sendiri yakni Raden Ayu.Dengan alasan untuk menghindari kemarahan/dendam ayahanda mereka terhadap raja, dan murkah raja yang melihat kepatuhan putera-putera Pangeran Puger.

Walaupun dengan hati berat ketujuh-tujuh putera Pangeran Puger dengan terpaksa melaksanakan hukuman bunuh itu setelah diancam hukuman berat jika mengkhianati perintah raja.

Tempat eksekusi/hukum bunuh tersebut dijalankan ditaman milik sang Pangeran itu sendiri.Para putera pangeran menyampaikan kepada saudari mereka tentang arahan hukum bunuh tersebut, sang puteri menerima dengan tenang dan meminta masa untuk mandi dan memberi wangian pada tubuhnya sebelum hukuman itu dilaksanakan. Ibunya dan para kaum kerabat perempuan diminta keluar dari tempat itu, pintu taman dikunci, sebuah tudung diberikan pada sang puteri untuk menutupi dirinya dari peristiwa berdarah yang akan segera dilihatnya, setelah menerima perintah akhir tali di tarik dan mengakhiri hidupnya.

Ketika pintu taman dibuka kembali dan kaum wanita dibenarkan masuk, para putera pangeran melihat suasana ketakutan dari tragedi yang mereka lakukan, seluruh taman bergema raungan histeria dan kesedihan yang teramat dalam.

Melihat ilustrasi dibawah dari koleksi universiti Leiden, hukum bunuh yang dilaksanakan adalah dengan mencekik mangsa yakni Raden Ayu dengan kain. Manakala para dayang Raden Ayu pula dilucuti segala pakaian mereka dan di humban kedalam sangkar harimau untuk dibaham sehingga daging dikoyak-koyak dan tulang temulang hancur dikisar gigi raja belang.

Manakala illustrasi tokoh berbaju kuning yang berada didalam kurungan bambu sebelah kiri adalah Raden Setiokusumo anak lelaki Pangeran Puger yang didakwa ingin melakukan pemberontakan.

Apapula yang terjadi pada sang pemuda,  Raden Sukro?

Kembali kepada sumber Crawfurd yang menceritakan detik-detik penangkapan, pengepungan sang pemuda yang putus harapan dan ketakutan.

Ayahnya sang menteri sangat mencintai puteranya, walaupun dalam keadaan terpaksa dan penuh penolakan, kepatuhan orang Jawa kepada rajanya akhirnya melunakkan sikapnya yang secara diam ingin memberontak. Segera ia datang menghadap sang raja dan ketika itu juga menteri tersebut di tangkap, kerisnya dilucutkan dan dikurung dalam sebuh kurungan bambu.

Raden Sukro yang melihat kejadian tersebut, dalam keadaan berputus asa dan ketakutan, mengambil jalan konfrontasi dengan mengabungkan diri dan berlindung pada sekelompok tentera upahan Bugis yang berada didalam kompleks istana menteri. Istana tersebut segera dikepung oleh tentera Susuhunan dan memerintahkan kelompok itu untuk menyerah diri.

Menurut Crawfurt gerak maju pasukan Susuhunan terhalang kerana adanya kekuatan tempur yang ganas, serta reputasi menakutkan yang dimiliki oleh kelompok prajurit bayaran tersebut.
Akhirnya setelah beberapa lama pengepungan yang tidak berhasil, ayah saudara pemuda tersebut keluar dari barisan tentera yang mengepung kompleks istana tersebut,  maju untuk bernegosiasi dengan anak saudara beliau.

Memujuk kemenakan beliau dengan harapan sebuah pengampunan dari Susuhunan, akhirnya setelah diberi keyakinan oleh kerabat terdekatnya, Raden Sukro menyingkirkan tentera bayaran tersebut dan segera membuka pintu istana, tentera Mataram meluru masuk menyerbu dan melucuti keris dan persenjataan sang putera. Melihat keadaan itu sang pemuda memohon agar darahnya tidak ditumpahkan,  ayah saudara Raden Sukro memberikan racun untuk melaksanakan hukuman bunuh tersebut, tetapi tindakbalas racun itu sangat lambat, dan desakan agar hukum segera dilaksanankan datang bertalu-talu dari istana Mataram, ayah saudara sang pemuda kerana tidak tahan lagi didesak meluru laju kearah sang pemuda langsung menarik rambutnya dan menjatuhkannya ketanah serta menginjak-injak leher pemuda tersebut hingga tewas.

Jika diperhatikan illustrasi dibawah,Raden Sukro dibunuh dengan cara yang sama seperti Raden Ayu.

Yang berbaju warna hijau dan dipayungi adalah illustrasi Amangkurat III. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pangeran Puger merampas takhta dari baginda, kemudian di tahun 1707 beliau ditangkap dan diasingkan ke Srilangka.

Satu je nak pesan jgn bermain cinta dengan bini orang oi, janda tak pa.

Sumber: 
: Crawfurd Sejarah Nusantara
: Universiteit Leiden


___________________________
~ La Bougiez ~
Lajnah Sejarah Dan Tradisi
_____________________________

Comments